jump to navigation

Paradigma Membimbing Shalat pada Anak December 19, 2008

Posted by adefisika in my experience.
trackback

Oleh : Ade Agung Harnawan

Akar permasalahan anak kita tidak mengikuti shalat dengan benar, karena selama ini kita tidak menerapkan sistem pembimbingan shalat pada mereka.

Kerap kali ketika kita berjamaah di masjid atau mushalla selalu mendengar suara maupun melihat tindakan dari beberapa anak kecil yang tidak mengikuti shalat dengan benar. Hal itu tentunya akan mengganggu konsentrasi jamaah yang berupaya secara khusus untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta alam semesta ini.

Meskipun keributan dilakukan oleh anak yang usianya rata-rata masih di bawah sembilan tahun yang segala tindakannya masih dapat ditoleransi (dimaafkan), tetapi apakah pernah kita berpikir jauh kedepan bahwa kenakalan kecil itu akan menjadi bibit kenakalan yang lebih besar di kemudian hari? Untuk menghindari hal itu, kita harus memberikan contoh yang benar.

Keharusan memberikan contoh yang benar dilandasi kasih sayang mempunyai dua dasar. Pertama, anak adalah titipan Allah. Oleh karena itu, jika Anda mendidik anak dengan benar maka Allah akan memberi kita kebajikan yang tiada ternilai. Begitu juga sebaliknya. Kedua, anak merupakan investasi orangtua. Ibarat harta yang dapat diinvestasikan, maka anak adalah investasi nyata dalam kehidupan.

Akar permasalahan anak kita tidak mengikuti shalat dengan benar, adalah selama ini kita tidak menerapkan sistem pembimbingan shalat pada mereka. Kita hanya menerapkan sistem pembelajaran shalat pada anak.

Pembelajaran adalah belajar tentang sesuatu, kemudian mempraktikkan sesuatu itu disertai dengan bimbingan dari guru/ustadz/ustadzah bersangkutan. Jadi dengan pembelajaran shalat dari ustadz/ustadzah di sekolah, TPQ (Taman Pendidikan Quran) atau TPA (Taman Pendidikan Alquran), santri mendapatkan bekal dan keterampilan untuk menunaikan kewajiban shalat.

Sebelum kita melihat pembimbingan itu seperti apa, alangkah baiknya kita mengetahui beberapa paradigma pembimbingan shalat yang terjadi di dalam masyarakat.

Pertama, berdasarkan ancaman, Kedua, berdasarkan manfaat. Ketiga, berdasarkan prinsip.

Sekarang, Anda pilih yang mana dari ketiganya? Kalau ada pertanyaan, apakah kita dapat menggunakan semuanya? Semua pembimbingan dapat digunakan pada waktu yang tepat. Tetapi yang harus kita lakukan adalah memberikan pengertian, sehingga anak paham permasalahan yang dihadapi dan ini adalah pembimbingan dengan prinsip. Kita dapat menggunakan prinsip yang pertama dan kedua apabila anak sudah keterlaluan, tetapi hal ini tidak dapat Anda lakukan seterusnya. Kecuali untuk mengingatkan. Kita harus kembali pada pembimbingan berdasarkan prinsip.

e-mail : adefisika@yahoo.com

Tulisan telah dipublikasikan pada Harian Banjarmasin Post pada hari Jum’at, 8 Juni 2007. untuk bahasan selengkapnya dapat diklik disini atau pada alamat ini http://www.indomedia.com/bpost/062007/8/opini/opini1.htm

Comments»

1. Yusuf - September 28, 2010

wah…makasih pembelajarannya mas. Inget dl mas ade pernah ngasih pelatihan. he..he

Yusuf
Fisika ITS 2003

adefisika - October 22, 2010

sama-sama dik, hehe yusuf kan adik angkatan saya, sukses buatmu…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: